Oleh: Rusdiansyah Aras
DULU, deru mesin cetak di malam hari adalah detak jantung ekonomi informasi. Saya ingat betul masa-masa emas itu, terutama saat menjabat sebagai Manajer Pemasaran Kaltim Post. Kita pernah menyentuh angka 75.000 eksemplar, sebuah angka yang fantastis untuk ukuran pasar regional.
Momentum itu meledak melalui inovasi seperti program Pemilihan Wajah Kaltim Post (PWKP) sejak 2007, yang membuktikan bahwa koran bukan sekadar kertas berita, tapi panggung komunitas.
Namun, hari ini kita sedang “melawan takdir”. Di tengah kepungan algoritma media sosial dan kecepatan media online, muncul pertanyaan eksistensial: Masihkah koran bisa bertahan hingga 2050?
Jawabannya: Bisa, tapi tidak dengan cara yang sama.
1. Evolusi Pemasaran: Dari “Penjual Kertas” ke “Pengelola Komunitas”
Era 75.000 eksemplar sukses karena kita berhasil menciptakan engagement (keterlibatan). Program PWKP adalah contoh awal dari “media sosial” versi cetak.
Untuk bertahan hingga 2050, marketing koran harus bergeser:
Hyper-Lokal & Eksklusif: Koran tidak bisa lagi bersaing kecepatan dengan portal berita. Koran harus menyajikan analisis mendalam yang tidak ditemukan di internet.
Event-Driven Revenue: Seperti PWKP, koran masa depan harus menjadi penyelenggara acara (EO) yang prestisius. Koran adalah pemberi legitimasi.
Data-Driven Marketing: Kita harus mengenal siapa pembaca kita secara digital (nama, hobi, alamat) untuk ditawarkan ke pengiklan sebagai target audiens yang berkualitas tinggi, bukan sekadar massa yang luas.
2. Strategi Iklan: Menjual Kepercayaan, Bukan Ruang Kosong
Iklan baris dan iklan display tradisional sedang sekarat. Strategi baru yang harus dijalankan adalah:
Native Advertising: Iklan yang dikemas dalam bentuk artikel narasi berkualitas tinggi.
Integrated Packages: Jangan menjual halaman koran secara terpisah. Juallah paket “Omnichannel”—iklan tayang di koran sebagai arsip sejarah, di portal berita untuk kecepatan, dan di media sosial untuk jangkauan luas.
Premium Brand Position: Posisikan iklan di koran sebagai barang mewah. Jika sebuah perusahaan memasang iklan di koran, itu tandanya mereka perusahaan besar yang kredibel dan “sah” secara hukum.
3. Konvergensi: Melawan atau Beradaptasi?
Menolak konvergensi adalah bunuh diri. Kita harus menggunakan serangan media sosial sebagai “umpan” untuk menarik orang membaca konten mendalam di koran.
Digital-First, Print-Deep: Berita singkat muncul di online segera, namun analisis “mengapa” dan “bagaimana” hanya ada di edisi cetak besok pagi.
Koran sebagai “Arsip Keabadian”: Di era digital, informasi mudah hilang dan dimanipulasi. Koran tetap menjadi dokumen fisik yang tidak bisa diedit setelah terbit. Inilah nilai jual utama hingga 2050: Kebenaran yang tercetak.
Penutup: Menjaga Api Tetap Menyala
Pengalaman saya membawa Kaltim Post ke puncak tiras 75.000 eksemplar mengajarkan satu hal: Masyarakat ingin melihat diri mereka di dalam koran. Koran akan eksis di tahun 2050 jika ia berhenti menjadi sekadar penyampai kabar dan mulai kembali menjadi “cermin” bagi masyarakatnya. Kita tidak sedang mempertahankan kertas, kita sedang mempertahankan jurnalisme yang berwibawa.*