Rayakan Imlek 2026, Barongsai Cap Go Meh Digelar Siang Hari Demi Toleransi Ramadan

1BANGSA.ID— Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kelenteng Thien Ie Kong, Jalan Yos Sudarso, Samarinda, berlangsung dengan penyesuaian khusus. Untuk pertama kalinya, seluruh atraksi barongsai pada puncak Cap Go Meh dipindahkan ke siang hari.

Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan, yang pada tahun ini bertepatan dengan rangkaian Imlek.

Aroma hio mulai merebak, berpadu dengan hembusan angin di kawasan tepian Sungai Mahakam. Bangunan merah menyala yang telah berdiri selama 121 tahun itu tampak bersolek. Kelenteng tertua di Kalimantan Timur ini kembali bersiap menyambut Imlek dengan ritual dan tradisi yang sarat makna.

Persiapan telah dimulai sejak awal Januari 2026. Para pengurus membersihkan seluruh sudut kelenteng, memandikan patung-patung dewa-dewi, serta melakukan pengecatan ulang bangunan utama.

Sekitar 200 lampion atau tenglong digantung rapi, dilengkapi ornamen bunga sakura imitasi yang mempertebal nuansa merah khas Imlek.

Pengurus Kelenteng Thien Ie Kong, Hansen, mengatakan persiapan fisik dilakukan sejak 5 Januari.

“Setelah pengecatan selesai di awal Februari, kami lanjutkan dengan pembersihan lampu teratai dan pemasangan lampion, bunga sakura, serta pernak-pernik lainnya,” ujarnya, Minggu, (15/2/2026).

Menurut Hansen, pembersihan patung dewa-dewi telah rampung pada 25 Januari. Sebanyak 11 patung dewa tidak hanya dibersihkan, tetapi juga diganti busananya sebagai bagian dari tradisi menyambut tahun baru.

Imlek 2026 jatuh pada Selasa, 17 Februari, yang menandai dimulainya Shio Kuda Api. Dalam kepercayaan Tionghoa, kuda melambangkan gerak dan dinamika, sementara unsur api dimaknai sebagai perubahan dan pembaruan.

“Dekorasi secara umum tetap, tetapi di aula ada tambahan ornamen khusus bertema shio kuda,” kata Hansen.

Penyesuaian paling mencolok terlihat pada puncak perayaan Cap Go Meh. Jika biasanya atraksi barongsai digelar malam hari, tahun ini pertunjukan tersebut dipindahkan ke siang hari hingga menjelang waktu magrib.

“Biasanya barongsai tampil sekitar pukul tujuh atau delapan malam. Tahun ini kami geser ke siang hari. Kami masih berkoordinasi dengan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia terkait teknis pelaksanaannya,” ujar Hansen.

Ia menegaskan keputusan tersebut merupakan wujud komitmen toleransi antarumat beragama.

“Kami ingin perayaan Imlek tetap meriah, tanpa mengganggu saudara-saudara Muslim yang menjalankan ibadah puasa,” katanya.

Selama bulan Imlek, kunjungan umat ke kelenteng ini diperkirakan meningkat signifikan, mencapai sekitar 6.000 orang dalam sebulan. Pengunjung datang tidak hanya dari Samarinda, tetapi juga dari Balikpapan dan daerah lainnya.

Kelenteng Thien Ie Kong terbuka bagi masyarakat umum yang ingin berkunjung atau sekadar berswafoto. Jadwal ibadah dimulai pada 16 Februari pukul 20.00 hingga 24.00 WITA, dilanjutkan pada 17 Februari sejak pukul 07.00 WITA hingga selesai.

“Masyarakat umum dipersilakan datang untuk melihat suasana dan meramaikan perayaan Imlek,” pungkasnya.

YANI | WONG

Leave A Reply

Your email address will not be published.